Kenaikan Harga Bawang Merah Berdampak pada Pedagang Warteg: Pemerintah Bisa Kendalikan

Bambang
3 Min Read
Ketua Komunitas Warung Tegal Nusantara (Kowantara) DKI Jakarta, Izzudin Zidan ketika melayani pembeli. Foto: Joesvicar Iqbal/ipol.id

“Naiknya harga bawang meningkatkan biaya produksi makanan yang dijual. Bawang sering digunakan sebagai bumbu dasar dalam banyak masakan,” ungkap Mukroni, Kamis.

Kenaikan harga bawang merah yang membebani modal usaha ini memberatkan karena para pedagang tidak lantas dapat menaikkan harga menu dijajakan kepada pelanggan.

Para pedagang Warteg khawatir jika menaikkan harga menu maka mereka berisiko kehilangan pelanggan, mengingat Warteg identik dengan pembeli dari ekonomi menengah ke bawah.

Mereka terpaksa bertahan menghadapi kenaikan harga bawang merah yang terjadi meski modal membeli bahan pokok dikeluarkan membengkak, dan keuntungan dari usaha berkurang.

“Jika pedagang Warteg tidak menaikkan harga jual makanannya untuk mengimbangi kenaikan biaya produksi, mereka mungkin akan mengalami penurunan margin keuntungan,” katanya.

Para pedagang Warteg berharap pemerintah lekas mengambil langkah menurunkan dan menjaga stabilitas harga bawang merah agar dapat terjangkau pelaku usaha.

Mukroni menambahkan, para pedagang Warteg berupaya mensiasati kenaikan harga bawang merah dengan mencari alternatif bahan bumbu lain digunakan meracik menu.

“Pedagang Warteg mungkin perlu mencari alternatif bahan atau bumbu lain yang lebih murah sebagai pengganti bawang untuk mengurangi biaya produksi,” pungkasnya. (Joesvicar Iqbal)

Share This Article