Kononenko mengatakan bahwa dia berolahraga secara teratur untuk melawan dampak fisik dari kondisi tanpa bobot yang “berbahaya.” Namun saat kembali ke Bumi barulah dia menyadari betapa banyak kehidupan yang telah dia lewatkan.
“Saya tidak merasa dirugikan atau diasingkan,” katanya.
“Hanya setelah kembali ke rumah barulah muncul kesadaran bahwa selama ratusan hari tanpa kehadiran saya, anak-anak tumbuh tanpa seorang ayah. Kali ini tidak ada seorang pun yang akan kembali kepada saya.”
Dia mengatakan para kosmonaut sekarang dapat menggunakan panggilan video dan pesan untuk tetap berhubungan dengan kerabat mereka.
Kononenko bermimpi pergi ke luar angkasa saat masih kecil dan mendaftar di institut teknik, sebelum menjalani pelatihan kosmonaut. Penerbangan luar angkasa pertamanya dilakukan pada 2008.
Ia melakukan perjalanan terakhirnya ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada tahun lalu menggunakan pesawat Soyuz MS-24.
ISS adalah salah satu dari sedikit proyek internasional di mana Amerika Serikat (AS) dan Rusia masih bekerja sama secara erat. Pada Desember, Roscosmos mengatakan bahwa program penerbangan silang dengan NASA ke ISS diperpanjang hingga 2025.
Namun hubungan kedua negara merosot sejak invasi Rusia ke Ukraina pecah hampir dua tahun lalu. AS merespons dengan mengirim senjata ke Kyiv dan menerapkan serangkaian sanksi terhadap Moskow. (tim/voa)


