Dampak dan Solusi Keyboard Pilpres: Gravitasi Dinding Virtual Homophily, Filter Bubble, dan Echo Chamber

Timur
7 Min Read
Suparto yang juga Tenaga Ahli Menko PMK saat berbincang di podcast Si Ipol. Foto: rian/ipol.id

Oleh: Assoc. Prof. Suparto,

Dosen Universitas Muhammadiyah Malang

IPOl.ID – Media sosial telah menjadi platform utama bagi masyarakat untuk mengakses dan menyebarkan informasi, termasuk informasi politik. Penggunaan media sosial untuk kampanye politik telah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir, termasuk di Indonesia.

Pada Pilpres 2024, muncul kekhawatiran akan polarisasi politik dan peredaran informasi palsu. Kadang bisa membuat kita tersenyum karena paradoks dan hoaks-nya. Di detik lain, juga memaksa kita merenung dampak serius dari “dinding virtual” yang muncul akibat fenomena homophily, filter bubble, dan echo chambers.

Ketiga konsep ini berhubungan erat dalam konteks media sosial dan dinamika informasi online, tetapi mereka memiliki fokus yang berbeda. Homophily (Kemiripan) adalah kecenderungan orang untuk bergaul dengan orang-orang yang memiliki kesamaan, baik dalam hal nilai, keyakinan, latar belakang sosial, atau politik apalagi dalam konteks Pilpres.

Fenomena ini bisa menciptakan lingkungan dengan paparan pandangan “satu warna” saja termasuk dalam menggali data dan informasi. Contoh, sebagai pendukung Calan A, seseorang akan cenderung menggali dan menambang informasi yang berkaitan dengan Calon A dengan menyingkirkan informasi calon lainnya.

Kian sering seseorang mengetik keyboard yang berkaitan dengan Calon A, misalnya, algoritma komputer (baca: sosial media) akan mencatat preferensi yang dikehendaki adalah “Calon A.” Di sinilah filter bubble (Gelembung Penyaringan) menancapkan posisinya. Algoritma media sosial dan mesin pencari secara otomatis menyaring dan menampilkan konten yang didasarkan pada preferensi dan sejarah penelusuran pengguna.

Akibatnya, mereka akan terisolasi dari berbagai perspektif dan berita yang beda apa lagi berlawanan. Pengguna hanya terpapar pada konten yang memvalidasi pandangan mereka tentang Calon A. Seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan network mereka, validasi itu akan kian mengkristal dalam bentuk echo chamber.

Echo Chambers (Ruang Gema) merupakan komunitas online dengan pandangan yang sama. Mereka berkumpul untuk memperkuat keyakinan dengan mengulangi dan memvalidasi pandangan tersebut tanpa adanya pertentangan atau dialog dengan pandangan yang berbeda. Ini menciptakan situasi di mana keyakinan politik atau sosial tertentu diperkuat tanpa tantangan dan paparan pandangan alternatif. Mata fisik dan mata hatinya akan cenderung berkaca-mata kuda.

Kaca mata itulah yang mengundang hadirnya dampak negatif berupa  polarisasi politik, kesulitan memahami perspektif beda, dan penyebaran hoaks.  Polarisasi politik akan menggiring terjadinya perbedaan pendapat dan pandangan politik di antara individu atau kelompok dalam suatu masyarakat menjadi semakin ekstrim atau bertentangan.

Ini berarti bahwa kelompok-kelompok tersebut cenderung memilih posisi yang lebih jauh dari moderat.
Kondisi ini bisa mengarah kedalam kesulitan untuk mencapai konsensus tentang masalah-masalah sosial kemasyarakatan apalagi politik. Bisa menghambat demokrasi dan peningkatan konflik antara kelompok-kelompok yang berbeda. Bahkan tanpa disadari, akan dapat menyebabkan kekerasan dan kerusuhan.

Terjebak di antara dinding virtual di atas juga bisa memenyebabkan seseorang kesulitan memahami perspektif beda. Orang yang terjebak dalam homophily, filter bubble, dan echo chambers mungkin sulit untuk memahami mengapa orang lain memiliki keyakinan yang berbeda dari mereka. Hal ini karena mereka tidak terpapar pada informasi yang dapat membantu mereka untuk memahami perspektif yang berbeda.

Share This Article