“Ketiga, penerapan prinsip pengasuhan positif seperti memelihara, memberdayakan, membimbing, mengakui hak-hak anak sebagai individu serta menetapkan batas-batas yang dibutuhkan anak. Keempat, iman, pengharapan, dan kasih menjadi pondasi keluarga Kristen dalam mengasuh anak di era digital, sehingga terbangun komunikasi positif dan kelekatan yang aman antara orangtua dengan anak,” tambah Evi.
Narasumber berikutnya, Pdt.Dra. Esther Rela Intarti, M.Th (dosen Pendidikan Agama Kristen FKIP UKI) yang membawakan topik “Persatuan dan Persekutuan dalam Gereja”. Pendeta Esther menjelaskan persatuan dan persekutuan merupakan syarat mutlak untuk pertumbuhan dalam mewujudkan dan merespons panggilan Tuhan dalam bergereja dengan tri tugas panggilan gereja yaitu koinonia,diakonia dan marturia.
“Panggilan untuk berkoinonia/bersekutu perlu dilihat dalam tujuan bergereja yang terus bertumbuh sehingga perlu mengesampingkan masing-masing ego demi persatuan dan persekutuan,”ujar Pendeta Esther.
Lebih lanjut, Prof. Dr. Chontina Siahaan, M.Si memaparkan topik “Komunikasi: Kunci Sukses Keharmonisan dalam Keluarga”.
“Semua kegiatan atau aktivitas dalam keluarga, perlu dikomunikasikan supaya di antara orang tua dan anak saling memahami peran masing-masing. Sering terjadi miskomunikasi yang berujung konflik di dalam rumah tangga hanya karena tidak dikomunikasikan dengan baik. Misalnya diantara bapak dan ibu, ibu dan anak, bapak dan anak yang masing-masing berperilaku yang kadang-kadang tidak sesuai dengan yang diinginkan,” kata Prof. Chontina yang merupakan Guru Besar Ilmu Komunikasi UKI
“Oleh karena itu, untuk menghindari konflik di dalam rumah, sebaiknya dibicarakan bersama untuk mencari solusinya. Orang tua mendengar masukan dari anak dan anakpun harus mematuhi orang tua. Orang tua menjadi model atau panutan di rumah sehingga anak bisa meniru dan melakukan apa yang dilihat. Serta anak dapat memahami apa yang dikomunikasikan orang tua,” ujar Prof. Chontina.
“Supaya tercipta keharmonisan keluarga, harus ada perhatian dari orang tua dengan berinteraksi setiap saat, saling memberi solusi, menghormati privasi dan pemberian apresiasi,” tambahnya.

Peserta kegiatan ini sangat antusias dalam tanya jawab yang dimoderatori oleh Elferida Sormin, M.Pd (Dosen Program Studi Pendidikan Kimia FKIP UKI) dengan fasilitator Formas Juitan Lase, M.I.Kom (Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Fisipol UKI), Dewi Sulistyowati, M.Hum (Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin FKIP UKI), Siona Geraldine (mahasiswa Ilmu Komunikasi) dan Van Vollenhoven (mahasiswa Ilmu Politik). Kegiatan ini ditutup dengan pemberian tanda kasih, doa penutup dan foto bersama.(Msb/Irma Supena)


