” Semula kita persiapkan Atlet melalui Final Review dengan Tim KSD KOI dan disepakati ditunjuk 3 atket putra dan 3 atlet putri serta 2 pelatih. Setelah dibuatkan Long List dan Entry by name, maka komposisi atlet berjumlah 3 orang Atlet putra dan 3 orang atlet putri, 2 pelatih dan 1 manager. Setelah Tim KSD KOI rapat Dengan Deputi 4 Kemenpora RI, terjadi perubahan dan hanya diberangkatkan 2 atlet putra dan 2 atlet putri serta 2 pelatih. Tiba-tiba muncul surat dari Plt Asisten Deputi Olahragawan Andalan, Kemenpora. Dr. Budi Ariyanto Muslim yang mengurang jumlah atlet dan menggantikan sebagian Atlet nya dan Pelatih nya,” ujar Mantan Wakapolri Ini.
Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar kepada Institusi pemerintah Kemenpora melalui Deputi IV, beberapa perubahan begitu cepat terjadi, hingga atlet merasa bingung dan menganggu kesiapan Mental atlet itu sendiri.
Selain itu, Manager Tenis Meja juga di tunjuk langsung oleh Kemenpora, padahal yang lebih berwenang Manager dari cabor karena paham dengan atlet nya itu sendiri.
” Yang paling menghawatirkan, Melalui KOI langsung mengirimkan surat ke organisasi tertinggi tenis meja Dunia yaitu Internasional Table Tennis Federation (ITTF). Padahal kita sudah meminta untuk penambahan Atlet dan pengganti Atlet, target dua emas untuk cabang Tenis Meja akan semakin sulit di raih karena berbagai keterbatasan dan jumlah nomer yang di pertandingkan semakin kecil kuantitas atlet hanya 2 putra dan 2 putri serta tidak mengambil peluang emas di event beregu, seminggu tentu ini akan menjadi kendala,” perolehan medali emas tambah Oegreseno. (bam)


