Sementara, Direktur Eksekutif Portkesmas Michael Pratama Santoso mengatakan, banyak masalah di dunia kesehatan saat ini basisnya adalah komunikasi. “Gap komunikasi antara tenaga kesehatan dan pasien disebabkan oleh pendidikan dan literasi di Indonesia yang masih rendah, baik itu literasi digital maupun literasi kesehatan,” katanya.
Belajar dari masalah tersebut, peningkatan literasi masyarakat menjadi jalan keluarnya. “Inovasi kesehatan menjadi hal yang bisa memecahkan masalah Gap antara tenaga kesehatan dengan pasien. Setelah literasi digital dan literasi kesehatan diwujudkan, maka kita bisa memanfaatkan berbagai inovasi aplikasi kesehatan untuk mengakses layanan kesehatan dari jarak jauh tanpa adanya batasan jarak lagi,” tambah Michael.
Erviana Hasan. jurnalis dan relawan Mafindo mengimbau pengguna media digital, khususnya kesehatan digital untuk mewaspadai hoax. “Selama pandemi kemarin penyebaran informasi bohong tentang kesehatan paling banyak tersebar. Kita tidak bisa memungkiri tingkat literasi masyarakat kita yang masih rendah menyebabkan masyarakat kita mudah termakan informasi bohong,” tuturnya.
Dalam Materinya, Erviana mengajak pengguna ruang digital untuk lebih selektif dalam mencari informasi kesehatan di ruang digital “Cek sumber dan kelengkapan informasi yang kita dapat di ruang digital, jangan termakan dengan judulnya saja tapi baca seluruh informasi sampai selesai. Terakhir pastikan informasi yang kita baca benar dan tidak share sembarangan suatu informasi,” pungkas Erviana. (ahmad)


