IPOL.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memantau peningkatan intensitas sirkulasi udara menjadi satu sistem bibit Siklon Tropis 99S yang mulai terbentuk di sekitar Laut Timor sebelah utara Australia.
Di samping itu, pantauan melalui Jakarta Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) itu juga dilakukan pada bibit siklon tropis 90S terbentuk di perairan Samudera Hindia barat daya Sumatera tepatnya di 13.0 derajat Lintang Selatan (LS) 95.9 derajat Bujur Timur (BT).
Deputi bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, mengatakan, potensi sistem 99S untuk tumbuh menjadi siklon tropis dalam periode 24-48 jam ke depan masih berada dalam kategori menengah. “Dengan potensi peningkatan sirkulasi yang semakin terorganisir untuk periode 72 jam ke depan,” ungkap Guswanto dalam keterangan tertulisnya, Jumat (25/2).
Lebih lanjut dikatakan, sistem bibit siklon 99S berada di 12.6 derajat LS, 128.3 derajat BT, di mana area tersebut sudah masuk di wilayah tanggung jawab TCWC Australia.
Sistem Bibit Siklon 99S memiliki tekanan udara minimum di pusatnya mencapai 1001mb dan kecepatan angin maksimum di sekitar pusatnya mencapai 25 knots (46 km/jam). Kriteria Bibit Siklon dapat dikatakan meningkat menjadi Siklon Tropis apabila kecepatan angin maksimum di sekitar sistemnya mencapai minimal 35 knot (65 km/jam).
Guswanto menginformasikan, berdasarkan pantauan citra satelit cuaca Himawari-8 kanal IR terlihat adanya pumpunan awan konvektif yang telah bertahan selama 12 jam terakhir dan dari analisis angin per lapisan terpantau pembentukan sirkulasi pada lapisan permukaan hingga menengah.
Pembentukan pola sirkulasi angin yang meningkat menjadi sistem bibit siklon tersebut diperkuat dengan adanya faktor konvektifitas udara yang signifikan di wilayah timur Indonesia sebagai dampak dari aktifnya fenomena gelombang atmosfer, yaitu MJO (Madden Julian Oscilation), Gelombang Kelvin, serta Gelombang ER (Equatorial Rosbby) di wilayah timur Indonesia.
“Data model prediksi BMKG menunjukkan bahwa pergerakan sistem sirkulasinya menuju ke arah selatan dan menjauhi wilayah Indonesia,” katanya.
Keberadaan sistem sirkulasi tersebut dapat membentuk daerah pertemuan dan belokan angin di wilayah Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, sebagian Jawa – Bali, NTB, NTT.


