Bobobox ajak Milenial Berinvestasi di Sektor Proptech, Minimum kisaran Rp50-60 juta Selama 5 Tahun

Bambang
9 Min Read

IPOL.ID- Data terbaru dari Badan Pusat Statistik masih menunjukkan lemahnya geliat industri pariwisata dengan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia.

Dari Januari hingga Juli 2021 tercatat turun sebesar 71,42 persen menjadi 937,75 ribu kunjungan dibandingkan 3,28 juta kunjungan pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Di tengah sulitnya menjaring wisatawan mancanegara akibat global pandemi yang masih menerpa, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif kini menggiatkan upaya mendongkrak wisatawan nusantara dengan semangat tetap menjaga protokol kesehatan.

Direktur Event Daerah pada Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Wisata Kemenparekraf Reza Pahlevi mengatakan momentum membangkitkan destinasi wisata di dalam negeri adalah dengan mengedepankan destinasi yang paling bisa menjaga protokol kesehatan.

Sebagai salah satu pemangku kepentingan di sektor pariwisata, Bobobox, yang tengah giat mengembangkan hunian pariwisata berbasis modular menawarkan skema investasi menarik untuk mengajak kaum milenial menjadi bagian dari perjalanan bisnis perusahaan property-technology (prop-tech) ini, selain juga berkontribusi membangkitkan sektor pariwisata.

Berawal dari jasa layanan unik dengan kapsul modularnya yang menawarkan teknologi canggih, kini Bobobox telah mengelola 17 cabang di seluruh nusantara dengan berbagai jenis fasilitas mulai dari Bobohotel (Bobobox pods), Boboliving hingga Bobocabin.

Selain terus berekspansi membangun jaringan dengan pendanaan sendiri, Bobobox juga membuka opsi kemitraan, baik dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pihak swasta maupun individu.

Co-founder Bobobox Antonius Bong menjelaskan pihaknya menawarkan skema kerja sama yang memberi kesempatan kepada masyarakat, terutama investor pemula, untuk menikmati hasil dari Bobocabin, yakni fasilitas hunian pariwisata berbasis modular untuk berbagai macam keperluan.

“Kita ingin mendemokratisasi pasar agar publik dapat menikmati hasil dari sektor ini. Kita telah berhasil membuktikan di berbagai lokasi Bobocabin di mana kita selalu overbooked meskipun di tengah masa pandemi,” ujarnya.

Awalnya, Bobobox menghitung total kebutuhan investasi untuk Bobocabin adalah sekitar Rp15 Miliar untuk satu lokasi. Angka tersebut memang tidak sebesar kebutuhan ratusan miliar rupiah yang diperlukan, misalnya, untuk mendirikan hotel bintang tiga dan empat.

Dari angka Rp15 miliar tersebut Bobobox sudah menginvestasikan sebagian besarnya untuk berbagai fasilitas di lokasi, tetapi tetap menyisakan ruang investasi di sekitar Rp6 miliar sampai Rp7 miliar untuk investor pemula.

“Itu yang kita tawarkan. Namun angka tersebut tentunya bukan nilai kecil untuk investor pemula. Itu sebabnya kita membuat suatu skema di mana investor pemula bisa ikut berkontribusi dan memiliki bagian dari Bobocabin,” kata co-founder startup yang akrab dipanggil Anton ini.

Mirip dengan skema crowd-funding, kini Bobobox menawarkan skema kerja sama yang sedang digandrungi kalangan millenial. Angka minimum investasi di Bobocabin adalah di kisaran Rp50-60 juta dengan masa kerja sama selama 5 tahun.

“Jadi kalau investasi Rp50 juta, di akhir tahun ke lima diharapkan dapat expected return Rp100 juta itulah yang kita tawarkan,” kata Anton.

Hal ini tentunya jauh lebih menguntungkan dibanding berinvestasi di sektor perbankan. Suku bunga deposito, misalnya, hanya menawarkan rata-rata sekitar 2,75 persen per tahun.

Dibanding investasi di pasar finansial, atau bahkan di aset kripto, investasi di Bobocabin menawarkan aset dan bisnis yang lebih mudah dikalkulasi dan diprediksi resikonya karena lokasi yang ditawarkan memang memiliki bisnis yang sudah berjalan sehingga dapat dihitung potensi penghasilannya.

Horizon investment yang lebih singkat, dan payback period yang lebih cepat merupakan tipe investasi yang banyak diminati kaum millenial, kata Anton.

“Investasi di sektor riil yang setara dengan yang kita tawarkan adalah investasi di food and beverages, namun perlu diingat bahwa berbisnis F&B memiliki beberapa kerentanan karena berhubungan dengan tren, konsep dan kompetisi,” kata Anton.

“Sedang di bisnis pariwisata, sejak dulu memang menawarkan imbal hasil yang cukup konsisten. Ditambah lagi, lokasi yang kita tawarkan adalah lokasi yang sudah berjalan, bukan lokasi tanah kosong yang belum berjalan bisnisnya. Kita sudah melakukan investasi dan mampu menunjukkan return yang baik, lalu kita coba tawarkan,” imbuh Anton.

Bobocabin menawarkan konsep elevated-camping yang mengusung pengalaman baru berkemah dengan memadukan kenyamanan fasilitas hunian, penggunaan teknologi Internet of Things (IoT) dan keindahan alam sekitar.

Share This Article